Suku Aneuk Jamee

Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat dan selatan Aceh. Dari segi bahasa, diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau. Namun, akibat pengaruh proses asimilasi kebudayaan yang cukup lama, kebanyakan dari Suku Aneuk Jamee, terutama yang mendiami kawasan yang didominasi oleh Suku Aceh, misalnya di wilayah Kabupaten Aceh Barat, Bahasa Aneuk Jamee hanya dituturkan di kalangan orang-orang tua saja dan saat ini umumnya mereka lebih lazim menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari (lingua franca). Adapun asal mula penyebutan “Aneuk Jamee” diduga kuat dipopulerkan oleh Suku Aceh setempat, sebagai wujud dari sifat keterbukaan Orang Aceh dalam memuliakan kelompok warga Minangkabau yang datang mengungsi (eksodus) dari tanah leluhurnya yang ketika itu berada di bawah cengkraman penjajah Belanda. Secara harfiah, istilah Aneuk Jamee berasal dari Bahasa Aceh yang berarti “anak tamu”.

Suku Aneuk Jamee terutama terdapat di kabupaten Aceh Selatan (lebih kurang 50 % populasi) dan sebagian kecil di kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Aceh Singkil dan Simeulue.

Kawasan-kawasan yang didiami oleh suku Aneuk Jamee:

Aceh Selatan
Kecamatan: Kluet Utara dan Kluet Selatan (bercampur dengan suku Aceh dan Kluet), Labuhan Haji, Labuhan Haji Barat, Labuhan Haji Timur, Sama Dua, Tapak Tuan

Aceh Barat Daya
Kecamatan: Susoh, Manggeng (bercampur dengan suku Aceh).

Aceh Barat
Umumnya terkonsentrasi di beberapa desa dalam Kecamatan Meureubo (bercampur dengan Suku Aceh): Gunong Kleng, Peunaga, Meureubo, Ranto Panyang dan sekitarnya
Disamping itu, sebagian kecil juga mendiami Desa Padang Seurahet yang termasuk dalam Kecamatan Johan Pahlawan. Umumnya yang disebut terakhir ini merupakan keturunan pendatang yang berasal dari Kabupaten Aceh Selatan dan telah menetap lama di Aceh Barat secara turun temurun.
 
Simeulue Sinabang

Aceh Singkil Kota Singkil, Pulau Banyak (hanya di 3 desa dari 7 desa, yaitu: Pulau Balai, Pulau Baguk dan Teluk Nibung)

Suku ini menghuni pesisiran Barat dari pantai Aceh. Terpisah dalam tiga kluster wilayah, dari Meulaboh, Kuala, Blang Pidie, hingga Labuhan Haji-Kluet, namun terdapat beberapa kluster kecil, misalkan di Kawai dan Johan Pahlawan.

Disebut Aneuk Jamee, artinya “Anak-anak pendatang yang datang ramai-ramai.” Darimana datangnya? Tepatnya dari Minang Kabau, lantas berasimilasi dengan kebudayaan Aceh.

Belum ada alasan jelas, mengapa suku ini tersebar dalam tiga kluster wilayah, namun diyakini inilah sifat dari pendatang yang mencoba membaur, masing-masing memiliki klan yang diikat dengan penduduk asli melalui jalan pernikahan.

Sehingga cenderung tersebar melompat wilayah dipesisir Barat. Adat budayanya mixing Aceh-Minangkabau. Sebagai contohn, para Tetua dijuluki Teuku Datuk

Menelusuri Sejarah Suku Aneuk Jamee (sumber )

Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat Nanggroe Aceh Darussalam. Dari segi bahasa, Aneuk Jamee diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau dan menurut cerita, mereka memang berasal dari Ranah Minang. Orang Aceh menyebut mereka sebagai Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang. bahasa yang digunakan bukan bahasa padang lagi tapi Bahasa Jamee.. mirip tapi tidak persis sama..tapi kalau di Daerah Kluet selatan, Tapaktuan, Blangpidie dan Susoh hampir semua masyarakat bisa berbahasa jamee dan Aceh…bahkan terkadang kadang berkomunikasi sudah bercampur dalam penggunaan bahasanya dengan bahasa Aceh.

Umumnya berkonsentrasi di kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya dan sebagian kecil di sekitar Meulaboh, Aceh Barat. Namun sebagian besar diantaranya berdiam di sepanjang pesisir selatan Aceh, meliputi Aceh Selatan yakni Kecamatan Kluet Selatan hingga ke Aceh Barat Daya.

Konon ceritanya, ketika perang paderi berlangsung, para pejuang paderi mulai terjepit oleh serangan kolonial Belanda. Minangkabau pada saat itu adalah bagian dari kerajaan Aceh mengirim bantuan balatentara. ketika keadaan makin kritis rakyat terpaksa di eksoduskan, pada saat itu mulailah Rakyat Minangkabau bertebaran di pantai Barat Selatan Aceh. Bahasa Padang tetap digunakan dengan berasimilasi dengan bahasa Aceh jadilah bahasa “jamee”. tidak banyak perubahan cuma beberapa konsonan dan vokal dan sedikit dialeknya yang berubah.

Versi lain Seperti informasi yang saya dapatkan dari Firman Hadi seorang teman yang bekerja di bidang jurnalistik yang mengatakan :

Aneuk Jamee di Aceh Selatan menempati di daerah-daerah pesisir yang dekat dengan laut. mungkin jalur perpindahan nenek moyang dulu adalah dari jalur ini. dulu hidup dari berkebun dan melaut. seiring perkembangan zaman, seiring dengan kemajemukan, hidup terus berkembang. ada pengusaha, pedagang, pejabat, PNS, dan lain sebagainya. semuanya hidup dalam porsinya masing-masing.

Komunitas Aneuk Jamee tidak terkonsentrasi pada tempat tertentu, melainkan menyebar. misalnya dalam suatu kecamatan tidak semuanya disitu hanya oleh suku aneuk jamee saja. bercampur dengan aceh. paling hanya desa saja membedakan komunitasnya. namun di desa itu dapat juga kita jumpai orang berbicara dual bahasa, Aceh dan jamee/minang. mungkin karena ada hubungan famili yang berbahasa aceh di desa lain. kecuali kecamatan tapaktuan, di kecamatan kota ini, aslinya memang semuanya dari aneuk jamee, kecuali pendatang yang bekerja dan menetap di kota ini dari kecamatan lain.

Dari 18 kecamatan di Aceh Selatan, banyak diantaranya tidak ada komunitas aneuk jamee, Dominan suku aneuk jamee ada di beberapa kecamatan,
1. Blang pidie, (plural)
2. Susoh (plural)
3. tangan-tangan (plural)
4. Labuhan Haji (sangat Dominan Jamee)
5. Sama dua (sangat dominan Jamee)
6. Tapaktuan (100% Jamee aslinya, kecuali pendatang, pejabat dan pns yang menetap di kota ini)
7. Kandang (nama wilayah yang terdiri 1 Mukim), berada di kecamatan Kluet Selatan.

Komunitas Aneuk jamee hanya terpusat di mukim kandang, berada di wilayah pantai, selebihnya dari kecamatan ini adalah Aceh dan Kluet ke arah dekat dengan gunung. yang paling unik adalah di kecamatan ini, jika anda pergi dihari pekan, Uroe Pekan, atau hari pakan, dan sejenisnnya di daerah ini, anda kemungkinan akan menemukan komunikasi di pasar dengan tiga bahasa, Aceh, Jamee, dan Kluet (kluwat). mereka menggunakan bahasanya masing-masing dan mengerti apa yang diucapkan oleh lawan bicara.
“bahasa bukanlah halangan untuk hidup bersama”.
inilah kekayaan budaya daerah tanah rencong ini. Di wilayah kandang ini juga bersemayam dengan tenang pahlawan Aceh, T Cut Ali, tepatnya di pinggiran hilir Krueng Kluet. berada di kelurahan Suak Bakong, ibukota kecamatan Kluet Selatan.

Walaupun ada dari komunitas aneuk jamee itu tidak berbahasa aceh, itu berkaitan dengan komunitas dan pergaulan komunitas tempat tinggalnya dan pergaulannya. maka ada yang tidak bisa berbahasa aceh. juga sebaliknya. Seperti halnya tapaktuan, rata-rata penduduknya memang tidak bisa berbahasa aceh secara baik dan benar, dikarenakan komunitas di kota itu bahasa pergaulannya adalah bahasa jamee itu sendiri. Dominan penduduknya disini adalah jemee/minang.

Saudara-saudara kita disana yang berbahasa aceh dari kecamatan lain yang berbahasa aceh, terkadang lebih suka menggunakan bahasa jamee/minang, dengan alasan ingin mencoba variasi bahasanya dan menurut mereka bahasanya juga agak lebih mudah dimengerti dan mudah dipahami. karena mirip seperti bahasa indonesia. pejabat- pejabat disana yang bukan berbahasa jamee juga sering menggunakan bahasa jamee. dikecamatan lain, juga seperti itu. anak remaja tanggung dari jamee banyak juga yang tidak bisa berbahasa aceh, itu karena faktor pergaulannya yang belum luas dan faktor keluarga dan hubungan famili yang mungkin semunya menggunakan bahasa jamee/minang.

Salah satu alasannya, mungkin menurut prakiraan saya, salah satu faktor inilah yang membuat ada warga jemee yang tidak bisa berbasa aceh.

Namun tidak bisa dipungkiri juga, banyak aneuk jamee fasih berbahasa Aceh. ini juga faktor plurarisme komunitas tempat berdiam, seperti hal nya di kecamatan kluet selatan, blang pidie sekitarnya. terkadang sehari-hari mereka menggunakan double bahasa. juga sebaliknya. bagiku, “salut” untuk mereka yang bisa seperti itu, bahasa mereka kaya. bahkan ada yang bisa menguasai tiga bahasa sekaligus, aceh, jamee dan Kluet (kluwat), seperti di daerah kluet selatan dan Kluet Utara. “Double salut” buat mereka.

Amatan saya di semua kecamatan hampir semuanya bisa berbahasa jamee dan bahasa aceh. namun kita sepakat dari dialek mereka, kita bisa menandakan bahasa ibu yang mereka gunakan dirumah, apakah bahasa aceh atau jamee.

Di Aceh Selatan sangat Plural. perbedaan asal tidak pernah diperbicarakan, dibincangkan atau menimbulkan konflik. Faktor perbedaan asal dan bahasa sangat tidak berpengaruh, semuanya sama saja. semuanya satu, sebagai kesatuan tempat berdiam, berkomunitas, bertempat tinggal, mencari nafkah, dan hidup bersama. perbedaan hanyalah sebagai sebuah bumbu-bumbu keindahan dalam kehidupan bersama.

Disana tidak pernah mempersoalkan “apakah bisa berbahasa ini atau itu”. semuanya berkomunikasi menurut bahasa yang mereka bisa gunakan. ketika orang yang berbahasa aceh tidak bisa berbahasa jemee, komunikasi yang dilakukan adalah dengan bahasa aceh, begitupun sebaliknya. tidak ada primordial bahasa, di aceh selatan.

Kebudayaan Suku Aneuk Jamee adalah kombinasi dari budaya Aceh dan Budaya Minangkabau. Hal ini bisa kita liat dari cara dan perlengkapan adat pengantin wanita yang menambahkan semacam suntiang (mahkota ) dikepala yang merujuk kepada adat dari daerah Bukit Tinggi. Sementara pada pakaian adat pria tetap mengikuti adat aceh yang sama – sama telah kita ketahui.

Tradisi Hari Meugang ( sehari sebelum bulan Ramadhan )
Salah satu tradisi unik di hari Meugang ( hari magang ) ini adalah tradisi yang ada pada masyarakat suku bangsa Aneuk Jamee, khususnya di daerah Kluet Selatan ( kandang ) . Di daerah ini di hari Meugang dikenal adanya tradisi Mambantai dan Balamang. Kedua tradisi ini selalu dilaksanakan setiap tahun sebelum Ramadhan setiap generasi ke generasi.
Mambantai adalah tradisi penyembelihan hewan yang nantinya dimasak untuk keperluan Meugang. Kegiatan ini dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka berkumpul di sebidang tanah yang cukup luas. Prosesi ini dipimpin oleh seorang pawang (kadang dipimpin oleh Imam Chik mesjid atau Meunasah ) yang benar-benar memahami tata cara dan doa dalam penyembelihan dan dibantu oleh beberapa orang yang bertugas mengikat kaki dan merebahkan hewan yang akan disembelih dengan posisi menghadap kiblat. Sampai pada proses pemotongan daging dan siap dimasak oleh kaum perempuan.

Selain itu, dihari yang sama ada pula tradisi Balamang yang dilaksanakan oleh hampir semua keluarga disana. Balamang berarti tradisi memasak lemang. Uniknya Lemang tersebut dimasak bersama-sama oleh semua

perempuan yang ada dalam keluarga yang biasanya diikuti oleh tiga generasi; nenek, ibu dan anak perempuan. Mereka mendapat porsi tugas masing-masing sesuai usia. Nenek dianggap orang yang paling ahli dalam memasak lemang. Ia bertugas sebagai orang yang mengaduk semua bahan dengan takaran yang sesuai. Selain itu ia juga yang paling mengerti cara memasukkan beras kedalam bambu. Generasi yang lebih muda kebagian tugas mencari, memotong dan membersihkan bambu untuk memasak lemang. Suatu hal yang menjadi pantangan bahwa bambu (buluh) tidak boleh dilangkahi karena dapat menyebabkan beras ketan yang dimasak di dalam buluh tersebut alak akan keluar (menjulur) saat proses pemanggangan (dibakar di bara api) dalam posisi berdiri bersandar pada besi tungku. Biasanya bambu dicuci di sungai dengan menggunakan sabut kelapa untuk mengikis miang yang melekat pada bambu (buluh) agar tidak gatal lagi. Gerakan menggosok batang bambu juga ditentukan yaitu satu arah, tidak boleh bolak balik untuk mencegah miang tadi melekat kembali. Gerakannya juga tidak boleh terlalu keras agar tidak merusak buluh. Generasi kedua ini juga bertugas memeras santan dengan memisahkan santan kental dan encer. Sedangkan generasi ketiga adalah generasi yang sudah harus mempelajari cara memasak lemang. Ia harus memperhatikan dengan baik setiap prosesnya. Tugasnya lebih ringan, mulai dari mencari daun pisang, lalu memilih dan memotong daun muda yang tidak mudah robek untuk dimasukkan ke dalam buluh lemang. Ia juga harus mencuci beras hingga bersih.
Sementara cukup segini dulu bahasan tentang Aneuk Jamee. Sepertinya banyak lagi yang akan saya bahas tentang Aneuk Jamee dan bahasa. (CP dari http://dmilano.wordpress.com/2011/04/04/menelusuri-sejarah-suku-aneuk-jamee )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: